Zulhas Ungkap Biaya Produksi Pangan RI Lebih Mahal dari Negara Lain

Jakarta, 23 Oktober 2026 β€” Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan bahwa biaya produksi pangan di Indonesia masih jauh lebih mahal dibandingkan negara-negara tetangga. Dalam pembukaan pameran pertanian Agrinex di Jakarta, Jumat (23/10/2026), Zulhas menyoroti disparitas biaya produksi beras dan gula yang mencapai tiga kali lipat lebih tinggi dari Thailand, Vietnam, dan Brasil.

1. Beras RI Rp12.000–14.000 per Kg, Vietnam Hanya Rp4.000

Zulhas memaparkan bahwa untuk memproduksi satu kilogram beras, petani Indonesia membutuhkan biaya sekitar Rp12.000 hingga Rp14.000. Angka tersebut sangat kontras dengan biaya produksi di Thailand, Vietnam, dan India yang hanya berkisar Rp4.000 per kilogram.

β€œArtinya, produktivitas terendah, lama-lama kita pasti tertinggal dari negara-negara lain.”
β€” Zulkifli Hasan, Menko Pangan

Komoditas Indonesia Thailand / Vietnam / Brasil
Beras (per kg) Rp12.000–14.000 Β± Rp4.000
Gula (per kg) Rp14.000–15.000 Β± Rp4.000

Sumber: Menko Pangan Zulkifli Hasan, Agrinex 2026

Persoalan serupa juga terjadi pada komoditas gula. Biaya produksi gula di Indonesia mencapai Rp14.000–15.000 per kg, sementara di Thailand dan Brasil hanya sekitar Rp4.000 per kg.

2. Akar Masalah: Irigasi Terfragmentasi dan Pupuk Berbelit

Menurut Zulhas, masalah utama rendahnya indeks pertanaman berakar pada pengelolaan irigasi yang tidak optimal. Dari total 7,4 juta hektare luas sawah nasional, luas tanam hanya mencapai 10 juta hektare karena mayoritas lahan hanya ditanami satu kali dalam setahun.

β€œKenapa irigasi enggak diurus? Karena dibagi, aturannya ada. 1.000 hektare oleh bupati, 3.000 hektare oleh gubernur. Nah bupati gubernur kan enggak bangun irigasi, tapi bangun jalan. Akhirnya irigasinya rusak. Produksi kita kecil. Kita perbaiki.”
β€” Zulkifli Hasan

Selain irigasi, efisiensi juga terhambat oleh rumitnya alur penebusan pupuk bersubsidi. Pemerintah telah memangkas 145 aturan terkait pupuk menjadi hanya tiga aturan melalui Peraturan Presiden. Hasilnya, penyerapan pupuk bersubsidi naik dari 6 juta ton menjadi 9,5 juta ton.

7,4 juta
Hektare luas sawah
10 juta
Hektare luas tanam
145 β†’ 3
Aturan pupuk dipangkas
6 β†’ 9,5
Juta ton pupuk terserap

3. Impor 4,5 Juta Ton dan Reformasi Harga Gabah

Tingginya biaya produksi berdampak pada ketergantungan impor. Indonesia tercatat mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras pada 2024. Namun, pemerintah juga merevisi regulasi harga pembelian gabah di tingkat petani menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa persyaratan kadar air.

Intervensi ini disebut berhasil mendongkrak Nilai Tukar Petani (NTP) dari 116 menjadi 131, menandakan peningkatan daya beli petani terhadap biaya produksi.

4. Dampak bagi Petani dan Konsumen

Biaya produksi yang tinggi membuat harga jual beras domestik sulit bersaing dengan produk impor. Di sisi lain, konsumen menanggung harga eceran yang lebih mahal. Pemerintah menargetkan perbaikan irigasi, penyederhanaan regulasi pupuk, dan penggunaan varietas unggul sebagai langkah menekan biaya produksi dalam jangka menengah.

5. Kesimpulan

Disparitas biaya produksi pangan antara Indonesia dan negara tetangga menjadi sinyal penting bagi reformasi sektor pertanian. Tanpa perbaikan irigasi, efisiensi pupuk, dan adopsi teknologi benih, ketergantungan impor beras dan gula berpotensi berlanjut.

Sumber: ANTARA News, Tempo.co, Kontan.co.id, Liputan6.com (23 Oktober 2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *